Senin, 11 Februari 2013

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI SELAYAR


بسم الله الرحمن الرحيم
BAB I
PENDAHULUAN

Dan semua kisah rasul-rasul kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar hatimu, dan didalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasehat dan peringatan bagi orang yang beriman. Mengetahui sejarah suatu bangsa atau daerah sangat penting dalam rangka memahami kondisi daerah itu, perubahan sosial yang terjadi di daerah tertentu, tokoh-tokoh yang menjadi penentu sejarah sampai karakter masyarakat.

Oleh karena itu upaya-upaya penelusuran sejarah perlu terus dilakukan sebagai salah satu langkah menghargai kerja generasi terdahulu. Dengan mengetahui sejarah juga akan membangkitkan semangat membangun daerah tersebut karena melihat kebesaran yang pernah diraih di masa lalu, sebagaimana Nabi Musa membangkitkan semangat Bani Israil dengan mengingatkan kebesaran mereka di zaman Nabi Yusuf.
Sejarah adalah guru bagi masa depan. Dengan berguru pada sejarah maka masa depan dapat dirancang dengan baik dan di tata agar dapat lebih cemerlang.

Dalam kaitan itulah maka penelitian tentang sejarah Selayar khususnya tentang Islam di tanah Selayar menjadi sangat bermakna bagi generasi kini dan mendatang.

A. DASAR PEMIKIRAN

Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke 12 melalui Sumatera, Jawa terus ke timur Ternate baru kemudian ke Sulawesi. Penelitian tentang masuknya Islam di Sulawesi Selatan pada umumnya menyatakan bahwa penyiar islam pertama adalah 4 datuk dan mula-mula Islam disiarkan di Luwuk kemudian Gowa dan daerah Sulawesi Selatan lainnya. Dalam hal penyiaran Islam di Gowa dan selayar oleh Datuk Ribandang ada perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan datuk Ribandang menyiarkan islam di Pusat kerajaan Gowa baru ke selayar, akan tetapi pendapat lain berdasarkan lontara/catatan di Gantarang Lalangbata Selayar mengatakan behwa pada saat Datuk Ribandang akan mengislamkan gantarag, Raja Puso berkata bahwa saya mau masuk islam asal Sombayya ri Gowa sudah Islam, dan dijawab oleh datuk Ribandang biarlah Raja masuk Islam dulu baru saya ke Gowa untuk mengislamkan Gowa.

Maka berdasarkan hal itu ditetapkanlah bahwa Islam masuk di Selayar tahun 1605 dan Gowa tahun 1607. Penelitian ini adalah berdasarkan pola pikir bahwa Selayar adalah masuk dalam kekuasaan kerajaan Gowa. Pola pikir ini sebetulnya tidak salah akan tetapi entah sengaja atau tidak atau ada alasan lain, nampaknya para penelit.

BAB II
SELAYAR SELAYANG PANDANG

A. LETAK GEOGRAFIS

Selayar adalah suatu gugusan pulau-pulau yang terletak di sebelah selatan Pulau Sulawesi, terdiri dari beberapa pulau yang agak besar dan sekian banyak pulau-pulau kecil. Yang terbesar diantaranya adalah P. Selayar, panjangnya kira-kira 100 km dan lebarnya (bagian yang terlebar) kira-kira 15 km, sedang yang lebih kecil adalah P. Kalo, P. Tanah Jampea, P. Bonerate,, P. Kajuadi, P. Kalao Toa, P. Rajuni, Tambolongan, Polassi dan lain-lain.

Secara geografis Selayar merupakan daerah lintasan, penghubung antara bagian barat dan bagian timur Indonesia. Para pedagang dari ujung barat Indonesia, Sumatera, Jawa yang ingin mencari rempah-rempah dan hasil bumi lainnya di Maluku dan Irian tentu harus melalui jalur laut Selayar dan sekitarnya. Demikian pula orang-orang Maluku dan Irian yang akan memasarkan hasil-hasil daerahnya baik hasil bumi seperti kopra dan rempah-rempah maupun hasil laut seperti teripang dan sirip ikan hiu tentu melalui laut sekitar Selayar.

B. KEADAAN ALAM DAN PENDUDUKNNYA

Dalam peta ekonomi P. Selayar dahulu ditandai dengan gambar jeruk manis. Produksi jeruk manis selayar sampai dengan tahun 1960-an sangat banyak melimpah memenuhi pasar di kota-kota di Sulawesi dan kota Surabaya dan sekitarnya di Jawa Timur

Jeruk Selayar terkenal karena aromanya yang khas; demikian juga rasanya yang berbeda dengan jeruk lain. Apabila diperbandingkan antara 3 jenis jeruk yang terkenal zaman doeloe yakni jeruk Bali, jeruk Malang dan jeruk Selayar, maka dapat dibuat perbandingan seperti berikut : jeruk Bali airnya berkelebihan sehingga manisnya kurang, jeruk Malang airnya agak sedikit sehingga manisnya terasa mengigit, sedang jeruk Selayar airnya pas-pasan sehingga manisnya juga terasa pas.

Hasil bumi lainnya adalah kopra yang pohon kelapanya tumbuh di semua areal tanah dari pinggir laut sampai diatas perbukitan, yang menurut catatan tahun 1970-an berjumlah 7.500.000-an pohon, tersebar di daratan P. Selayar maupun di pulau-pulau lainnya seperti P. Kalao, Bonerate, Jampea, Kajuadi dan lain-lain. Ada juga hasil hutan lain seperti kayu bayam di Jampea dan di P. Kalao

Tentang penduduk yang memdiami daratan selayar dan pulau-pulau lainnya di bagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan bahasa yang dipakai sehari-hari :
  1. “Etnis” Selayar Yang merupakan kelompok Makasar yang mendiami hampir seluruh daerah Selayar (termasuk pulau-pulaunya) dan menggunakan bahasa Selayar. Pada dasarnya bahasa Selayar adalah bahasa sehari-hari yang digunakan oleh penduduk di seluruh daerah Selayar, kecuali di beberapa tempat yang mereka tidak mengerti bahasa Selayar seperti di Bonerate dan di Rajuni.
  2. “Etnis” Buton, terdiri dari 2 kelompok :
    • Kelompok masyarakat; Buton daratan (P.Buton) yang menggunakan bahasa Wolio. Mereka mendiami daerah ujung selatan P. Selayar yakni di Laiyolo dan Barang-barang serta daerah P. Kalao-Lambego. Pada umumnya kelompok masyarakat ini tahu berbahasa Selayar.
      Sekedar catatan bahwa ada beberapa tempat di wilayah Bontobangun yang menggunakan bahasa LAIYOLO-WOLIO yakni : kolo-kolo (Wolio = kecut, Laiyolo = sungai kecil), Pungipi (Wolio dan Laiyolo = mimpi), padang oge (Wolio dan Laiyolo = padang semak tanpa pohon kayu yang luas, oge = besar), Ngapa loka (Wolio dan Laiyolo = timbunan atau pelabuhan loka/pisang) PERTANYAANYA : apakah tidak mungkin bahwa daerah Laiyolo dahulu meliputi Benteng atau Bontobangun sampai ujung selatan P. Selayar ?
    • Kelompok masyarakat Buton Kepulauan yang lebih dikenal sekarang dengan WAKATOBI (Wangi-wangi-Kaledupa-Tomia-Binongko). Mereka menggunakan bahasa “WAKATOBI khususnya Binongko; termasuk dalam kelompok ini adalah kelompok yang menggunakan bahasa Cia-cia yang berasal dari P. Batu Atas. Mereka pada umumnya tidak mengetahui bahasa Selayar. Kelompok ini mendiami P. Bonerate (nama aslinya adalah Bone MareaseE), Karumpa, Kalao Toa (Desa Garaupa) P. Madu dan Jinato.
  3. “Etnis” Bajo, menggunakan bahasa Bajo, mendiami daerah pulau-pulau Rajuni. Kelompok masyarakat ini pada umumnya tahu bahasa Selayar.
    Adapun “etnis” Bugis memang cukup banyak jumlahnya dan mendiami hampir seluruh Wilayah Selayar namun dalam tulisan ini diang ap sebagai “para perantau”.

BAB lll
SEJARAH SELAYAR
Riwayatmu doeloe Tulisan atau catatan-catatan tentang kapan selayar masuk dalam sejarah nampaknya ditemukan. Memang “SELAYAR” sudah lama diketahui keberadaannya seperti tertulis dalam buku Negara kertagama karangan Prapanca bahkan masuk dalam sumpah palapa, akan tetapi tentang apa bagaimana keadaan dan keberadaannya tidak ada penjelasan. Catatan dapat diperoleh adalah dari sejarawan buton dan gowa yang menyebutkan bahwa Babullah Putra Sultan Ternate dalam perjalananya ke buton yang kemudian di lanjutkan ke gowa pada tahun 1580 M menyerahkan selayar ke kerajaan gowa. Bahkan ada lagi versi lain yang menyatakan bahwa terjadi tukar guling antara kesultanan buton dan dan kerajaan bone. Waktu itu kerajaan bone di bawah kekuasaan raja andi baso menyerahkan kabaena kepada sultan buton untuk menjadi lubang beras untuk kesultanan buton dan sebaliknya sultan buton menyerahkan selayar kepada sultan bone. Bedasarkan perstiwa ini kita buat alur berfikir bahawa dulu kesultanan ternate meliputi buton dan selayar (selayar masuk dalam daerah buton) Hal ini dapat kita pahami dari ungkapan kalimat; dulu orang-orang buton berjum’at di ternate dengan menumpang perahu ”wasilomata” yang kecepatannya sekejap mata saja sudah sampai di tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara buton dan selayar kita mulai dari LA BOLONTIO. Ia adalah seorang kepala pengacau keamanan berasal dari banggai yang sangat sakti dan bermata satu (tengkoraknya tersimpan di museum kesultanan buton yang bentuk tengkoraknya adalah tanpa lekuk dibagian mata’ tetapi ada lekukan di arah pangkal hidung dan disitulah diperkirakan letak matanya yang hanya satu itu). Belum ada orang yang dapat mengalahkannya sepanjang perjalanannya ke daerah selatan dan akhirnya sampailah LA BOLONTIO di boneatiro buton . Pada waktu itu yang memerintah kerajaan buton adalah raja V raja Mulse yang menduduki tahta sejak tahun 1507-1542 M. khawatir akan gangguan keamanan yang serius bagi kerajaan dan keselamatan rakyat dari LA BOLONTIO’ maka raja Mulae mengeluarkan pengumuman sayembara, bahwa siapa saja yang dapat membunuh LA BOLONTIO, maka ia akan dikawinkan dengan anak raja yang terkenal kecantikannya dan digelar BOROKO MALANGA artinya SIJENJANG LEHER sedang nama aslinya adalah Wa Tungpaidongi. Untuk menghadapi LA BOLONTIO simata satu yang terkenal sakti itu maka raja Mulae mengerahakn pasukan yang dipimpin oleh kemenakan yang selama ini diasuh dan di didik dalam istana kerajaan buton, namanya Timbang Timbangi. Ia adalah anak raja Muna SIGI MANURU dan disana dikenal dengan nama Lakilapanto. Dalam pimpinan pasukan ini LAKILAPANTO dibantu oleh 2 orang hulu balang yaitu MANJAWARI dan BETOAMBARI. MANJAWARI adalah putra selayar anak dari PATI DG PASORO. (TENTANG Manjawari akan di urai tersendiri nanti berdasarkan versi SELAYAR) ia adalah Sapati kesultanan buton. Dalam pertempuran antara pasukan kerajaan dan “SERANGGAI” pasukan pengacau keamanan, mula-mula Betoambari yang menghadapi LA BOLONTIO'. namun karena LA BOLONTIO yang memang terkenal sakti, Betoambari kewalahan menghadapinya maka majulah Manjawari menggantikanya. Lakilaponto mengawasi jalannya pertempuran sambil berpikir mencari cara untuk mengalahkan LA BOLONTIO pada saat Manjawari mulai kelihatan kewalahan Lakilaponto mendekati arena pertempuran maju dengan langkah yang kelihatannya seperti orang agak pincang sampai di suatu tempat yang pasirnya agak basah (pertempuran terjadi di pinggir laut ) lalu berhenti dan menyusupkan kakinya kedalam pasir. Manjawari yang memang sudah kewalahan lalu menyingkir, maka LA BOLONTIO mendekati Lakilaponto, nampaknya ada rasa memandang remeh lawan dari LA BOLONTIO, melihat lawan yang berjalan sedikit pincang karena itu kewaspadaannya agak berkurang. Pada saat yang tepat Lakilaponto mengais pasir dengan kakinya dan menghamburkanya ke wajah LA BOLONTIO dan matanya yang satu-satunya itupun penuh dengan pasir. Karena matanya penuh dengan pasir dan tidak dapat melihat alam sekeliling , malah ia sibuk dengan mengucek-ucek matanya yang penuh dengan pasir itu, dan agar pasirnya keluar. Dalam keadaan kelabakan seperti itu tidak di sia-siakan oleh Lakilaponto untuk menghunuskan senjata andalannya ke tubuh LA BOLONTIO sampai akhirnya ia tewas menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan tewasnya komandan-kepala “rampok” tersebut, anak buahnya menjadi kocar-kacir melarikan diri, sedangkan pasukan Buton yang dipimpin oleh Lakilaponto dan 2 orang hulu balang kembali ke keraton dengan membawa kemenangan. Pada saat LA BOLONTIO tewas, para kepala pasukan segera mendekati untuk mengambil mayatnya sebagai bukti bahwa dialah yang membunuhnya. Disamping itu juga yang ingin melampiaskan dendam kesumatnya atas kematian kerabat atau pemimpin/ rajanya sebut saja misalnya pasukan Kadatu-Siompu yang sangat geram dengan tindakan LA BOLONTIO karena Rajanya telah menjadi korban keganasan LA BOLONTIO, maka kepala pasukannya secepatnya mendekati mayatnya dan memenggal kepalanya untuk dibawa ke istana sebagai bukti bahwa ia membunuh LA BOLONTIO. Ada juga yang memotong bagian badannya yang lain seperti tangan atau kakinya dan dibawa ketempat masing-masing. Karena itu akan kuburan LA BOLONTIO dikabarkan ada di beberapa tempat.

Sebenarnya pada saat Lakilaponto menghujamkannya pada tubuh LA BOLONTIO yang menyebabkannya tewas. Lakilaponto segera memotong alat vital-nya untuk dibawa ke istana karena memang yang dijadikan syarat atau bukti siapa yang membunuh LA BOLONTIO adalah siapa yang dapat membawa alat vitalnya ke depan raja. Dengan terbunuhnya LA BOLONTIO, kerajaan Buton dan sekitarnya menjadi aman dan raja mulai merasakan bahwa sekaranglah saatnya untuk mewujudkan janjinya mengawinkan putrinya sileher jenjang BAROKOMALANGA dengan Lakilaponto. Namun tiba-tiba saja Lakilaponto dipanggil ke Konawe (Kendari) untuk menerima warisan dari neneknya. Ternyata setelah Lakilaponto sampai disana, muncul tugas besar menghadangnya, karena pada waktu itu Mekonga menyerang Konawe, Raja Konawe kemudian meminta agar Lakilaponto memimpin pasukan Konawe untuk melawan pasukan Mekonga.

Lakilaponto segera mempersiapkan pasukannya tentara Konawe dan memimpinnya melawan pasukan Mekonga. Dengan peristiwa ini Lakilaponto mendapat gelar julukan HALUOLEO, artinya 8 hari. Sebenarnya pada saat Lakilaponto bersama pasukanya berangkat ke medan laga melawan pasukan Mekonga, para pembesar kerajaan Konawe mengadakan musyawarah untuk mengangkat raja setelah pertempuran usai, maka takala Lakilaponto pulang dengan membawa kemenangan, para pembesar raja langsung mengangkat Lakilaponto menjadi raja Konawe dengan gelar TOLOLAKI. Di Konawe Lakilaponto kawin dengan anak raja Konawe dan mendapat 3 orang anak. Kemudian Lakilaponto kembali ke Muna untuk menemui orang tuanya yang sedang sakit, tidak berapa lama kemudian orang tuanya meninggal dunia. Orang tuanya adalah raja Muna, karena itu Lakilaponto diangkat menjadi raja Muna menggantikan orang tuanya yang bernama Sugimanuru. Tidak lama di Muna Lakilaponto kemudian kembali ke Buton untuk mengawini anak raja Buton Sijenjang leher Baloko Malanga dan jabatan sebagai raja Muna diserahakan pada saudaranya LA POSASU yang kemudian bergelar Kobang Kuduno. Sebetulnya raja Mulae bermaksud mengawinkan anaknya dengan LAKILAPONTO sekaligus mengangkat menantunya itu menjadi raja Buton menggantikannya, namun LAKILAPONTO menolaknya dengan alasan: alangkah menyoloknya, anaknya dikawini lalu jabatannya sebagai raja muda yang kelak akan menggantikan raja mulae. Setelah pengangkatan sebagai raja muda Lakilaponto menjelajah sampai ke pulau kalao. Berapa lama ada di kalao tidak ada berita yang pasti, akan tetapi diberitakan bahwa Lakilaponto sempat kawin dengan putri kalao dan mendapatkan anak 1 orang laki-laki dengan nama LABOLEKA sedang di buton ia dikenal dengan nama LA TUMPARASI dan kelak ia menggantikan orang tuanya sebangai sultan ll. Dari pulau Kalao Lakilaponto meneruskan perjalanannya ke selayar (diperkirakan di Laiyolo karena Laiyolo dan pulau Kalao sama dengan bahasa wolio buton ), dan juga sempat kawin dengan putri selayar dan punya anak laki-laki satu orang dengan nama LASANGAJI. Ia kelak diangkat menjadi sultan lll menggantikan kakaknya LA TUMPARASI. Setelah dari selayar baru LAKILAPONTO kembali ke buton. “ada” riwayat lain yang menyatakan bahwa Lakilaponto menjelajah ke pulau kalao dan pulau selayar sebelum kembali ke buton untuk kawin dengan anak raja mulae. Dari fakta sejarah ini kita dapat menelusuri hubungan antara buton dengan selayar sebelum tahun 1580 dengan alur berpikir :
  1. Mengapa atau bagaimana atau apa latar belakang keberadaan manja wari berada di buton pada saat buton menghadapi saat yang kritis 
  2. Apa sebabnya Lakilaponto memilih untuk mengunjungi – menjelajahi - sampai di pulau kalao dan selayar setelah pelantikannya sebagai raja muda. 

Dari 2 pertanyaan ini bisa saja dijawab secara kebetulan; kebetulan MANJAWARI jalan-jalan ke buton bersamaan dengan tibanya LA BOLONTIO di buton dan mendengar bahwa ada sayembara dengan hadiah kawin dengan putri raja, maka Manjawari ikut mendaftar sehingga dia diperkenankan mendampingi komandan pasukan buton Lakilaponto, juga secara kebetulan saja Lakilaponto memilih pulau kalao dan selayar sebagai tempat santai setelah menjalani peristiwa peristiwa besar. Apakan benar bahwa peristiwa peristiwa itu terjadi secara kebetulan atau memang antara selayar dan buton sudah terjalin hubungan kedaulatan dan bagaimana bentuknya akan kita urai sebagai berikut:

Sejarah buton dimulai dengan kedatangan MIA PATAMIANA, manusia yang 4 orang. Sesungguhnya mereka bukan hanya 4 orang tetapi 2 rombongan yang di pimpin oleh ketua dan seorang wakil ketua setiap rombongan. Rombongan ini dari negeri asalnya menumpang perahu yang di namai PELULANG. mula-mula mereka tiba di pulau MALALANG, kemudian di kalao. Rombongan pertama lebih dahulu meninggalkan kalao dan akhirnya mereka tiba di kalampa yaitu suatu pelabuhan yang terdapat di sebelah barat daerah WOLIO. Tiba di situ mereka memasang bendera dari negerinya yang di sebut LONGA-LONGA, artinya warna-warni. Pimpinan rombongan itu bernama SI PONJONGA dan wakilnya SI JAWANGKATI. Karena di tempat itu mereka memancangkan bendera, maka di tempat itu disebut SULA, artinya pemasangan tiang. Disitulah mereka bermukim. Sedang rombongan kedua dipimpin oleh SI TAMANAJO dan wakilnya adalah SI MALUI menyusul kemudian. SI PANJONGA, SI MALUI, SI TAMANAJO dan SI JAWANGKATI itulah yang dinamakan dengan MIA PATAMIANA. Rombongan ke dua tadi mendarat di walalo gusi yang terdapat dalam kecamatan KAPONTORI sekarang. Dari riwayat tersebut dapat dibuat pemikiran bahwa persinggahan rombongan MIA PATAMIANA ini nampaknya bukan sekedar singgah saja tetapi juga menempatkan beberapa orang disana untuk menetap dan mengembangkan daerah tersebut. Karena itu maka bahasa masyarakat kalao sama dengan bahasa WOLIO. Demikian pula bahwa rombongan kedua tidak bersamaan meneruskan perjalanannya ke buton tapi singgah lebih dahulu di LAIYOLO dan menempatkan beberapa anggotanya menetap disana sehingga bahasa masyarakat LAIYOLO juga sama dengan bahasa KALAO yakni bahasa wolio. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa awal sejarah perkembangan Buton beriringan dengan awal perkembangan sejarah Selayar oleh MIA PATAMIANA dan rombongannya. Dan karena itu maka keberadaan MANJAWARI pada saat kerajaan BUTON menghadapi gangguan keamanan dan penjelajahan LAKILAPONTO di KALAO dan LAIYOLO adalah hal yang semestinya dan sewajarnya Karena memang BUTON dan SELAYAR memang satu kesatuan wilayah.

Bab IV 
SEJARAH MASUKNYA ISLAM 

Sebagaimna dikatakan di atas bahwa Selayar sebelum tahun 1580 adalah bagian wilayah dari kerajaan Buton, maka masuknya Islam di Selayar juga berkaitan dengan masuknya Islam di buton. Menurut riwayat agama Islam mulai disebarkan di buton oleh Syekh Abdul Wahid bin Syekh Sulaiman keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Syekh Wahid datang ke BUTON atas petunjuk Imam Pase yang kebetulan dalam perjalanan pulang ke Maluku. Syekh Wahid tiba di buton pada masa pemerintahan raja Mulae (diartikan sebagai raja yang mulia menerima ajaran islam). Awalnya islam disebarkan dalam keraton saja. Tentu Lakilaponto sebagai keluarga kerajaan, menantu raja bahkan raja menjadi pemeluk agama islam bersama dengan keluarganya yang ada dalam istana dan keluarganya yang ada di Muna, di Kalao dan di Selayar-Lailoyo dan Barang-barang. Alasannya bahwa Lakilaponto sudah dilantik menjadi Sultan I, beliau sangat aktif menyebarkan agama islam ke seluruh wilayah kesultanan Buton termasuk ke Muna dan lain-lain. Ada riwayat lain bahwa Syekh Wahid mula-mula datang di Kalao namun oleh karena kalao sudah islam (atau sudah mengislamkan orang Kalao) “MOJINA KALAO” mengantar Syekh Wahid ke Buton (Burangasi). HAL INI BISA DIARTIKAN BAHWA PADA WAKTU LAKILAPONTO KAWIN DI KALAO DAN DI SELAYAR-LAILOYO, BELIAU SUDAH BERAgama islam. KEDATANGAN Syekh Wahid diperkirakan sekitar tahun 1527 dan setelah keluarga istana sudah semuanya memeluk agama islam, Raja Mulae meminta kapada Syekh Wahid agar dilantik menjadi Sultan akan tetapi Syekh Wahid tidak bersedia melantiknya sebelum mendapat izin darim pusat kerajaan islam di JOHOR (atau Saudi Arabia). Oleh karena itu Syekh Wahid meminta izin dan kembali ke JOHOR untuk meminta petunjuk tentang pelantikan Sultan tersebut. Ternyata bahwa Syekh Wahid baru tiba kembali di buton pada tahun 1542 M, dan waktu itu raja Mulae telah meninggal dan digantikan oleh Lakilapondo karena itu Lakilapondo menjadi Raja ke-IV dilantik menjadi Sultan I dengan gelar SULTAN KAIMUDDIN pada tahun 948 H-1542 m dan tahun inilah yang di sepakati sebagai tahun permulaan masuknya Islam di Buton. Berdasarkan hal tersebut, bahwa agama Islam menjadi agama resmi di kesultanan Buton berarti Selayar dan sekitarnya sebagai bagian dari kesultanan Buton juga resmi menjadi penganut agama islam pada tahun 1542.

A. Penyiaran dan Pengembangan Islam di Kalao.
Tentang bagaimana penyiaran dan pengembangan agama Islam di awal masuknya Islam di Selayar tidak diperoleh informasi yang jelas selain keterangan bahwa Sultan I KAIMUDDIN yg terkenal sabagai SULTAN MURHUM (sultan yang mengubur-meng-almarhumkan-tradisi lama animisme) sangat memperhatikan penyiaran dan pengembangan agama Islam dengan mengirim mubaligh ke seluruh daerah kesultanan. Tentu termasuk daerah Kalao dan Lailoyo Selayar karena keluarga Sultan berada di kedua daerah ini. Sebagaimna di jelaskan dimuka bahwa awal penyiaran Islam di Buton dimulai dari keluarga, baru masyakat umum, karena itu wajar dan kita yakin kalau Sultan Murhum sangat memperhatikan kehidupan keagamaan keluarganya di Muna maupun di Selayar meskipun tidak di ketahui nama-nama mubalugh atau penyiar disana.

B. Perkembangan Islam di Kalao.
Masyarakat Selayar khususnya masyarkat Kalao tidak ada lagi yang mengetahui tentang kapan dan siapa penyiar agama Islam di sana. mereka hanya pernah mendengar cerita bahwa dahulu kala ada kalao yang terkenal. Namanya LA BUDU. Namun hanya sampai disitu saja cerita yang mereka tahu, tentang siapa dia, apa pekerjaannya, bagaimna tingkah lakunya dan lain-lain tidak ada lagi ceritanya. Namun dari nama LA BUDU ini dapat kita pahami bahwa mereka mengenal nama orang besarnya Kalao yang bernama LA BUDU atau ABDULLAh yang di kenal dalam sejarah Buton sebagai Mojina Kalao. Moji adalah jabatan keagamaan di dalam struktur kesultanan Buton yang berada setingkat dibawah jabatan Imam keraton sebagai puncak jabatan keagamaan. Kesultanan Buton dibagi dalam 4 wilayah keagamaan yakni :
  1. Mojina Silea 
  2. Mojina Peropa 
  3. Mojina Kalao dan 
  4. Mojina Waberengalu atau haji pada. 

Mojina kalao yang nama aslinya ABDULLAH adalah salah seorang ulama kesultanan Buton yang berasal dari luar keraton BUTON yang mempunyai keistimewaan sehingga mendapat hak KATAMPAI, hak memiliki tanah di dalam kraton dan di kuburkan dalam wilayah kraton. Awal kedatangannya di Buton adalah karena dipanggil oleh Sultan Dayanu Ihsanuddin, disebabkan oleh situasi itu ada firasat dikalangan pejabat-pejabat keraton bahwa akan ada marabahaya yang akan meninpa negara/kesultanan dan menurut pemikiran para pejabat keraton hanya Mojina Kalao yang dapat menyelamatkan negara dari musibah atau marabahaya tersebut. Tentang bagaimana bentuk rupa musibah itu tidak di jelaskan, namun menurut penulis ada kaitannya dengan kesultanan ternate dan buntutnya adalah pemisahan Selayar dari kesultanan Buton dan penyerahannya kepada kerajaan gowa yang masih animisme. Riwayat mengatakan bahwa pada suatu waktu kesultanan buton tidak mau lagi berjum’at di ternate dan ingin ber’jumat sendiri di Buton. Sebagaimna diketahui bahwa diawal masuknya Islam di Buton mereka diharuskan berjum’at di Ternate, orang-orang Buton datang berjum’at di Ternate dengan menunpang perahu WASILOMATA (kecepatannya adalah sekejap mata saja sudah sampai). Setelah 3 kali jum’at (sekian lama) orang buton tidak mau lagi berjum’at di Ternate dan ingin berjum’at sendiri di Keraton Buton, Sultan Ternate mungkin agak jengkel dengan perkembangan ini namun tidak bisa juga memaksa secara kekerasan tanpa alasan yang rasional maka dibuatlah keputusan bahwa kesultanan Buton boleh melaksanakn Shalat jum’at sendiri di Buton dan tidak usah datang ke Ternate kalau memang orang Buton sudah pintar. Untuk membuktikan bahwa orang Buton sudah pintar mereka harus bisa menjawab 3 pertanyaan dari kesultanan Ternate. Ternyata di kalangan pejabat-pejabat buton tidak mampu untuk menjawab 3 pertanyaan tersebut dan mereka sepakat bahwa hanya Mojina kalao yang terkenal kuat ilmu batinnya dan luas ilmu agamanya itu yang akan mampu memberikan jawabannya, karena itulah maka Mojina Kalao dipanggil ke Buton. Adapun 3 pertanyaan yang diajukan oleh kesultanan ternate adalah.
  1. Tentang tongkat dari kayu minta ditunjukan yang mana pokoknya dan yang mana ujungnya. 
  2. Minta dikirim 40 ekor ayam yang sama bunyi kokoknya. 
  3. Semangka itu berapa bijinya. 

Mojina Kalao memberikan jawaban sebagai berikut:
  1. Untuk menentukan bagian mana yang pokok dari kayu atau tongkat maka kayu/tongkat itu dicari pertengahannya dan diikatkan benang ditengah-tengahnya itu dengan perhatian bahwa masing-masing bagian sama bagian sama timbangan beratnya, kemudian kayu/tongkat itu dimasukan kedalam air, maka bagian yang lebih dulu tenggelam itulah pokok pangkalnya dan bagian yang lain adalah bagian ujungdari kayu/tongkat itu. Ilmu menentukan bagian pangkal kayu dan ujung kayu nampaknyadi kalao dan Bonerate, sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat khususnya bagi ‘MATAGURI’ ahli pembuat rumah dan perahu, sebab apabila letak tiang atau kayu tidak sesuai dengan kayu itu, misalnya tiang rumah ada yang ujungnya diatas pokok pangkalnya di bawah atau dinding ujung pangkalnya berselang seling di bagian muka dan belakang maka rumah itu sifatnya tidak baik.
  2. Tentang ayam yang sama kokoknya, Mojina kalao meminta 40 ekor ayam yang baru menetas untuk dikirim ke Ternate. kan suaranya sama menciut-ciut. 
  3. Untuk semangka beliau meminta sebuah semangka lalu dibelah dua dan ternyata kedua belahan semangka itu sama isinya, maka Mojina Kalao menyatakan bahwa semangka itu adalah satu biji saja. 

Menurut penulis peristiwa ini ada kaitannya dengan kedatangan Babullah ke buton. Sultan Ternate setelah melihat gelagat bahwa Buton yang selama ini berada dibawah hegomoni Ternate akan berdiri sendiri merasa kurang enak, namun tidak ada alasan yang tepat untuk menghalanginya. Maka dibuatlah siasat untuk menjebaknya. Untuk itu Sultan mengutus anaknya Babullah untuk menyelesaikan masalah ini ke Buton dengan harapan bahwa Sultan Buton tidak bisa menjawabnya. Namun kenyataannya bahwa permintaan kesultanan ternate dapat di penuhi oleh kesultanan Buton. Karena Babullah kecewa atas misinya yang gagal, maka ia meneruskan perjalanan ke Gowa dan menyerahkan Selayar ke Gowa yang memang dekat dengan kerajaan Gowa karena berada di ujung selatan Sulawesi selatan.

Versi lain tentang kedatangan Mojina Kalao adalah: Menurut Bapak La Umbu BA, Mojina Kalao dipanggil oleh Sultan IV Dayanu Ihsanuddin (yang memerintah dari tahun 1579-1616) agar ke Buton untuk menyelesaikan masalah besar yang menimpa rakyat Buton yakni terjadinya perpecahan dan hilangnya kesatuan dan persatuan rakyat yang mengancam kelangsungan kesultanan Buton. Karena pada waktu itu di kalangan masyarakat terjadi perselisihan yang tajam tentang pelaksanaan Sya’riat Islam akibat dari cara penyiaran agama dari masing-masing penganjur Islam yang berbeda-beda, masing-masing hanya mengikuti ajaran masing-masing dan menyalahkan yang lainnya tanpa dalil-dalil dari al-qur’an atau hadits (Pak la Umbu mengistilahkan tanpa ALKITAB). Mojina Kalao menberikan penjelasan kepada Sultan bahwa menurut ilmu yang mereka peroleh dari guru mereka di Persia adalah: bahwa perbedaan pendapat itu lumrah saja sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 72 golongan dan 2 golongan yang masuk surga (wawancara dengan Pak la Umbu 4 Februari 2009).

Karena itu harus ada saling pengertian dan toleransi sepanjang ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Keberhasilah Mojina kalao menangkal musibah mara bahaya yang diperkirakan bakal menimpa kesultanan Buton, kemampuannya menjawab pertanyaan dari kesultanan Ternate, kesuksesannya dalam usaha menghindarkan perselisihan dan perpecahan di kalangan rakyat/masyarakat Buton adalah merupakan pengabdian yang sempurna, karena itu beliau diberikan hak KATAMPAI yakni hak mendapat tanah di dalam keraton. Hak katampai ini hanya diberikan kepada orang luar kraton yang mempunyai karya yang istimewa bagi pengembangan kesultanan Buton yang menurut sejarah Buton hanya 2 orang saja yang mendapatkannya yakni Mojina Kalao dan Haji Pada. Karena itu makam Mojina Kalao ada dalam kraton Buton dan keturunannya dapat mengolah tanah sekitar benteng kraton.

Mojina juga dikenal sebagai orang pintar/dukun. Menurut riwayat anak Sultan Dayanu ihsanuddin yang bernama La Cila sakit. Semua dukun yang ada pada waktu itu sudah dimintai pertolongannya akan tetapi tetap saja sakit tidak sembuh-sembuh. Kemuddian Mojina Kalao dapat menyembuhkannya melalui sehelai benang dengan ilmu kebatinannya. Dan dalam penyampaiannya kepada Sultan, Mojina Kalao berkata bahwa la Cila bisa hidup sekarang dengan melalui benang dan saatnya nanti akan kembali ke alam baqa juga dengan melalui benang. Ternyata bahwa apa yang disampaikan oleh Mojina Kalao menjadi kenyataan sejarah yakni La Cila yang kemudian menjadi Sultan VIII dengan gelar Sultan Mardan Ali dijatuhi hukuman mati oleh kesultanan dengan jalan diikat lehernya dengan tali benang yang khusus ditenun untuk pelaksanaan hukuman mati. Bahwa pada waktu La Cila dijemput dari istana pada hari pelaksanaan hukuman mati atasnya, ternyata tidak ada yang mau membuka istana dan kemudian diketahui bahwa La Cila bersembunyi di dalam guci tidak mau keluar. Mojina Kalao datang kesana dan memanggilnya disertai ucapan KULLU NAFSIN DZAIKATUL MAUT- setiap yang bernyawa pasti akan mati, dilanjutkan dengan WALAO KUNTUM FY BURUJIN MUSAYYADAH- meskipun di dalam benteng yang kokoh lalu diakhiri dengan idza jaa ajaluhu sudah tibalah ajalmu. Setelah mendengar ketiga kalimat tersebut, maka dengan suara yng menunjukan penyesalan tetapi penuh pasrah La Cila Mardan Ali menyahut ”iwesiy iyku uwa” saya disini kek/kakek- sambil keluar dari tenpat persembunyiannya lalu menyerahkan diri pasrah atas kehendak ilahi atas dirinya.

Menurut Bapak La Umbu BA penganjur atau penyiar Islam di kalao/Selayar ada 2 orang bersaudara yakni: Imam Kalao dan adiknya Mojina Kalao. Sebetulnya mereka adalah 7 orang saudara putera Sultan JOHOR yang di kudeta oleh Sultan Sulaeman . 7 bersaudara ini kemudian berguru-belajar di persia. Setelah tamat mereka tidak mau lagi ke JOHOR, malu karena itu mereka menyebar di Indonesia , menurut riwayat ada 5 orang yang di ketahui tempatnya yakni, 1 orang di Ternate, 1 orang di Gorontalo (turunannya sekarang menggunakan fam KATILI), 1 orang di bungku dan 2 orang di kalao dan 2 orang lagi tidak diketahui tempatnya. Setiap murid yang selesai bergurudi sana/Persia selalu di bekali dengan Al-Qur’an tulissan tangan kitab hadits dan fiqh warisan Mojina kalao yang masih ada adalah Al-Qur’an Wa kuntere kitab Fiqh dan beberapa kitab lainnya sedang kitab Hadits sudah rusak sama sekali Adapun kitab Qur’an yang disimpan oleh Moji dussun lambego (jabatan Moji di Lambego adalah petugas/jabatan yang tugasnya adalah menyelenggarakan urusan jenazah) yang penulis bawa ke Buton untuk mempertemukan dengan al-Qur’anWa Kuntere ternyata memang sama, karena yang satu adalah Al-Qur’an milik Imam Kalao dan yang satu lagi adalah milik Mojina Kalao. Persamaan kedua AL-Qur’an ini, yakni Al-Qur’an mojina Kalao terdiri dari 15 baris setiap halaman sedang AL-Qur’an Imam kalao hanya 13 baris. Memang (menurut Pak La Umbu yang telah menelusuri AL-Qur’an tua sampai di jawa, termasuk di cirebon dan madura) Al-Qur’an tua sepeti itu bermacam-macam versinya, ada yang 13 ada yang 15 dan ada yang 18 baris setiap halamannya.

Mojina kalao dan Imam kalao menyiarkan agama islam di Kalao selama 20 tahun sebelum Mojina Kalao di panggil oleh sultan Buton. Mojina Kalao kemudin menetap di Buton dan menjadi salah satu ulama terkenal kesultanan Buton, tidak lagi kembali ke Kalao karena setelah tugas utamanya ke Buton selesai karena ternyata Selayar termasuk Kalao bukan lagi wilayah buton karena Ternate menyerahkan Selayar kepada kerajaan Gowa. Hal ini dapat di pahami bahwa disamping kedudukannya sebagai ulama yang kharismatik, juga bahwa kerajaan Gowa masih menganut kepercayaan animisme belum menganut agama islam. Tentunya penyiaran dan pengembangan agama Islam diteruskan oleh Imam Kalao karena nyatanya bahwa Al-Quran tulisan tangan Persia miliknya disimpan oleh salah seorang warga Kalao sedang kitab lainnya tidak lagi di ketahui keberadannya.

Tentang mengapa Mojina Kalao bersaudara memilih Kalao sebagai tempat menyiarkan agama Islam, hal ini dapat di analisa sebagai berikut: Bahwa penyiar agama islam di Buton adalah Syekh Abdul Wahid yang berasal dari JOHOR. Sebagaimana dituturkan di depan bahwa beliau datang ke Buton di jaman raja mulae kira-kira 1527 m. Menyiarkan agama islam di kalangan keluarga raja dan setelah Islam mantap di dalam keluarga kraton termasuk raja Mulae bahkan beliau minta untuk dilantik menjadi Sultan, Syekh Wahid yang merasa tidak berwenang dalam urusan ini kemudian minta izin dan pulang ke JOHOR, dan kembali lagi ke Buton 1542 m dan melantik Lakilaponto sebagai Sultan karena Raja Mulae sudah wafat. Berdasarkan hal ini maka dapat dipahami bahwa Syekh Wahid dan Mojina Kalao bersaudara sudah saling kenal, sebab jika kita urai dari sudut tahun kedatangan Mojina Kalao bersaudara di Kalao yakni sekitar 20 tahun sebelum beliau dipanggil ke Buton sekitar 1559 dan massa belajar di Persia kira-kira tidak kurang dari 5 tahun berarti Sultan JOHOR yang dikenal Syekh Abdul Wahid adalah ayah dari Mojina Kalao bersaudara. Dengan demikian dapat dipahami bahwa Mojina Kalao bersaudara datang ke kalao atas petunjuk Syekh Abdul Wahid atau setidak-tidaknya atas informasinya sebagai penyiar islam pertama di Buton, yang tentu mengenal situasi dan keadan kesultanan Buton antara lain bahwa Kalao adalah salah satu tempat yang penghuninya adalah keluarga Sultan I dan Sultan II, dan Sultan Murhum adalah seorang Sultan yang sangat memperhatikan kehidupan beragama masyarakat lebih-lebih lagi keluarganya, juga karena ajaran agama Islam yang di bawa oleh Mojina Kalao sama dengan yang dianut oleh Syekh Abdul Wahid yakni Syi’ah. 

Ajaran islam yang pertama datang ke Buton adalah Syi’ah dan menurut mantan IAIN ALAUDDIN pengaruhnya berlangsung selama kurang lebih satu abad. Bukti yang dapat dilihat adalah bangunan mesjid kraton yang terdiri dari 12 pintu berarti Syi’ah ITSNA’ ASYARIYAH Bukti lain yang bisa dikemukakan disini adalah pelaksanaan shalat tarawih dan witir. Di kesultanan Buton shalat Tarawih Di laksanakan 8 rakaat tambah witir 3 rakaat, berbeda dengan faham AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH yang umumnya dibawah oleh penyiar Islam lainnya. Di Indonesia yang pelaksanaan tarawihnya 20 rakaat tambah witir 3 rakaat. Demikian juga yang berlaku di Kalao dan sekitarnya “ yang etnis Buton seperti Bonerate. Menurut salah seorang tokoh agama di Bonerate Drs. Taharudidn ( kepala KUA Pasimasunggu) Shalat tarawih dan witir sejak dulu sampai sekarang adalah 8 rakaat tambah witir 3 rakaat, tentang perkembangan Islam selanjutnya di Kalao dan sekitarnya tidak ada hal yang istimewa yang di ketahui oleh masyarakat, namun dalam penelitian penulis menemukan 2 naskah tulisan tangan sederhana yang pertama di Kalao ada naskah tentang tarikat/tasawuf tanpa pengarang dan sudah tidak lengkap isinya, ditulis diatas kertas/buku tulis yang biasa dipakai untuk pembukuan keuangan ada garis khusus untuk angka. Tulisannya adalah tulisan Arab dan arab melayu dan menggunakan bahasa yang bermacam-macam; ada bahasa arab, bahasa daerah Kalao/Bonerate dan ada juga bahasa Bugis Makasar. Naskah kedua ada di Limbo Bonerate berupa kitab Fiqh, dikarang oleh H Abdul Rahman Dg Mattaru, ditulis oleh H. Dg Mamuzu. Pengarang kitab ini pernah mukim di Mekah selama 10 tahun. Kitab/buku tersebut berisi tentang tata cara shalat berdasarkan madzhab Syafi’i.

C .Perkembangan Islam di Laiyolo Selayar. 
Dalam struktur pemerintahan Buton, P. Selayar, termasuk salah satu bagian daerah yang disebut Buton yaitu Bontona silae. Mantan pejabatnya disebut yarone silae berkedudukan di Boneatiro dalam daerah kecamatan Kapontori. Sebagaimana telah disebutkan dalam bidang agama kesultanan Buton dibagi menjadi 4 Moji;
  1.  Mojina silea meliputi daerah Maromohu sampai Wawonii 
  2. Mojina peropa meliputi daerah Wawonii sampai sogori 
  3. Mojina waberengalu atau Haji Pada meliputi daerah Sogori sampai Watuata 
  4. Mojina Kalao meliputi daerah Watuata sampai Morohamu. 

Gelar/jabatan Moji adalah jabatan seumur hidup dam turun temurun (Mulku Zahari hal 114) bernama ABDULLAH, akan tetapi tentang Mojina Silea tidak diketahui siapa namanya, dan dimana tempat mukimnya. Informasi yang dapat digunakan untuk menentukan tempat kedudukan Mojina Silea bahwa kata SILEA atau SELAYAR diapakai juga untuk menunjuk tempat tinggal salah satu orang isteri Sultan I murhum. Untuk menentukan kota/kampung nama di Selayar yang menjadi tempat kediaman keluarga Sultan didapat cerita bahwa; di Selayar disiapkan tempat permandian untuk keluarga Sultan apabila keluarga Sultan Buton bersilaturahim dengan keluarganya di Selayar tempat permandian itu adalah di suatau tempat yang ada air terjunnya. Ternyata bahwa di air terjun Patokore di daerah Laiyolo ada semacam kolam yang sepertinya dibuat oleh tangan-tangan manusia; hal ini juga didukung oleh keadaan masyarakat Laiyolo yang bahasa sehari-harinya adalah sama dengan bahasa wolio Buton. Menurut penelitian baru-baru ini, bahwa bahasa laioyolo sekarang adalah 80% adalah bahasa Wolio. Dengan demikian maka disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan Silea adalah daerah Laiyolo yang terletak di ujung selatan Selayar, masuk dalam kecamatan Bontosikuyu. Tentang siapa penyebar Islam pertama di Laiyolo dan bagaimana alirannya/madzhabnya tidak ada lagi yang mengetahuinya. Menurut salah seorang tokoh, Patta Nasrah mengatakan bahwa pelaksanaan shalat tarawih di bulan Ramadhan sejak dulu 8 rakaat. Hal ini sejalan dengan apa yang telah di urai sebelumnya bahwa Sultan I Murhum sangat memperhatikan perkembangan penyiaran agama Islam di seluruh kesultanan Buton dan mengirim mubaligh penyiar agama tentunya juga Selayar Lailoyo termasuk yang diprioritaskan untuk dikirim Mubalihg/penyiar agama karena disana ada keluarga familinya, sama dengan perhatiannya di daerah Kalao. Dengan demikian maka meskipun tidak dikenal siapa nama penyiar agama Islam pertama di Selayar namun dapat di tetapkan bahwa tahun 1542 M adalah tahun resminya agama Islam tersebar di Selayar sama dengan resminya Islam Di kesultanan Buton. Aliran Madzhabnya adalah Syi’as itsna Asyariah dengan tarawih 8 rakaat berbeda dengan ahli Sunnah wal Jamaah yang tarawihnya 20 rakaat yang banyak di anut di daerah Sulawesi selatan lainnya.

BAB V 
KESIMPULAN DAN PENUTUP 

Berdasarkan uraian-uraian tersebut maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Selayar sebelum tahun 1580 terintegrasi dengan kerajaan/kesultanan Buton 
  2. Agama Islam resmi menjadi agama masyarakat Selayar khususnya di Kalao dan Lailoyo pada tahun 1542, seiring dengan resminya agama Islam di kesultanan Buton. 
  3. Penyiaran Islam di Selayar melalui jalur kraton sentris dan perkawinan. 
  4. Mojina Kalao dan Imam Kalao dari JOHOR mengembangkan agama Islam di Kalao sekitar 1559 
  5. Islam yang disiarkan adalah aliran Syi’ah yang moderat 

Demikian penyajian penelitian yang sangat sederhana dan jauh dari kesempurnaan ini, namun mudah-mudahan bisa menjadi motivasi untuk mengungkit sejarah Selayar yang baik. Kepada Allah SWT sajalah kita serahkan segala-galanya.

Sumber :
SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI SELAYAR
oleh Drs. Muhammad Ridwan Jongke
(naskah ini dibahas pada Seminar Masuknya Islam di Selayar pada November 2011 pada Hari Jadi Selayar ke-406)  

PELAUTKAH ORANG SELAYAR?: TANADOANG DALAM CATATAN SEJARAH MARITIM



Penulis: Ahmadin
Penerbit: Ombak Yogyakarta
Tahun: 2006
 
Peranan penting pulau yang juga sering dijuluki “Tana Doang” dimasa lampau ini, ibarat sebuah kenangan lama yang sudah kabur dan nyaris terkubur. Bahkan terkesan ironis karena bukan hanya orang Sulawesi Selatan secara umum yang kabur akan persoalan ini, tetapi Orang Selayar sendiri juga mengalami hal serupa sehingga membutuhkan sebuah pencerahan. Karena itu, tidak jarang muncul pertanyaan benarkah Selayar yang masih memiliki aneka tinggalan sejarah yang berhubungan dengan sektor kemaritiman ini adalah bukti bahwa orang yang berada di pulau ini adalah pelaut.
     Buku ini memberikan gambaran deskriptif  tentang peran Selayar dalam panggung sejarah maritim. Sebagai starting point memasuki sisi-sisi penting dari kajian ini, maka karakter Orang Selayar diletakkan sebagai pembahasan awal sekaligus pengenalan lebih dekat terhadap suku Ghele ini. Karakter sosio-kultural suatu masyarakat, secara fundamental berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan dan pilihan-pilihan hidupnya. Karena itu, mengetahui mentalitas suku pemakai bahasa dialek Makassar ini,  mutlak dilakukan dalam upaya menelusuri jiwa kebahariannya.
     Mengingat adanya ragam penafsiran terhadap makna kata Selayar, maka kajian berikutnya dalam buku ini digambarkan mengenai asal usul penamaannya yang juga berkonotasi maritim. Demikian pula segenap potensi yang dimiliki, digambarkan berdasarkan hampiran teori Alfred Thayer Mahan tentang 6 (enam) unsur yang menentukan dapat tidaknya kekuatan laut suatu negara berkembang.
     Bagian berikutnya diulas tentang Tradisi Nyombala dengan menggunakan hampiran teori push-factors dan full-factors penyebab terjadinya migrasi. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengetahui motif yang mendorong orang Selayar meninggalkan kampung halaman, apakah karena jiwa bahari atau naluri perantau.
     Belum lagi terjawab teka-teki menyangkut sisi kelampauan penghuni pulau terselatan dari Jazirah Celebes ini, mereka harus berbaur diantara kepenasaranan kolektif tentang keberadaan sejumlah benda bersejarah. Karena itu, Nekara Perunggu yang telah dijadikan benda ritual penduduk setempat keberadaannya dihubungkan dengan kebudayaan Dongsong. Demikian pula jangkar raksasa yang telah dimitos-kultuskan sebagai balango lopinna Sawerigading (jangkar perahu Sawerigading), dikaji dalam hubungannya dengan kiprah pulau ini di masa lampau.
     Untuk mensinergikan impian pemerintah menjadikan Selayar sebagai kabupaten maritim dengan segenap potensi yang dimiliki, maka peranan penting pulau ini dalam jaringan pelayaran dan perdagangan juga dianalisis secara historis. Melengkapi kajian ini maka digambarkan mengenai kabupaten maritim dalam pergumulan antara cita-cita dan realita, dan diakhiri dengan sulitnya mencetak generasi pelaut karena problema mentalitas.
Mengingat kabupaten ini memiliki wilayah administatif sangat luas serta penduduk yang tersebar di berbagai pulau, maka kajian secara komprehensif terhadapnya sangat sulit untuk dilakukan. Karena itu, dengan beberapa alasan kajian ini hanya dibatasi pada deskripsi sekitar orang Selayar daratan yang juga banyak bermukim di sepanjang pantai dari pelabuhan Pamatata (di sebelah utara) hingga Appatana (di sebelah selatan) serta pantai timur.
Pertama, batasan spasial ini memang harus diakui tidak meng-cover secara representatif masyarakat Selayar secara keseluruhan terutama yang mendiami wilayah kepulauan. Akan tetapi, Selayar daratan sengaja dipilih sebagai lingkup kajian karena merupakan basis dinamika masyarakat asli. Sebaliknya, masyarakat pulau telah terkontaminasi secara integratif dalam proses akulturasi budaya.
Kedua, di Selayar daratan merupakan basis pembentukan karakter lokal sebagai warisan masyarakat pra kerajaan, masa kerajaan, masa Gallarang, dan masa penting lainnya di Tana Doang. Karena itu, mentalitas yang terpola sebagai warisan setiap masa tersebut menjadi penentu kecenderungan, corak, dan pilihan hidup masyarakat Selayar kemudian.   
     Deretan uraian yang mengisi setiap bagian dari buku ini, akan menjawab pertanyaan mengenai “pelautkah orang Selayar”, berdasarkan bukti-bukti sejarah. Bahkan akan menjadi bukti apakah orang Selayar memang pelaut dengan sejumlah kelebihan yang dimiliki atau justru hanya sebuah kebanggaan apologik di atas wacana tanpa realita.[]
Posting By Darmawang 

Minggu, 20 Januari 2013

DPD PERMAS (PERSATUAN MASYARAKAT SELAYAR)KALTIM RESMI DILANTIK


Pengurus Persatuan Masyarakat Selayar (PERMAS) Provinsi Kalimantan Timur periode 2012-2016  resmi telah dilantik. Pelantikan pengurusnya dilakukan oleh Dewan Pembina DPP Permas Pusat dari Makassar di Hotel Grand Victoria Samarinda, Sabtu 23 Desember 2012.
 
Menurut Ketua PERMAS Kaltim Bapak Adwin A Karim kegiatan pengukuhan tersebut merupakan moment penting menyusul terbentuk dan diakuinya wadah pemersatu masyarakat Selayar dirantau. ‘’PERMAS merupakan wadah berhimpun satu golongan masyarakat  yang memiliki visi dan komitmen bersama membangun kebersamaan  hingga mewujudkan masyarakat Selayar yang  saling menghargai dan tidak lupa akan kampung halamannya, kendati berada jauh di rantau,’’ ujar Adwin disela-sela sambutannya.
   
Yang terpenting katanya, tali silaturahmi dan peran masyarakat Selayar dalam membangun daerahnya dapat terwujud,   meskipun warga Selayar terpencar di berbagai wilayah di Indonesia.
   
Pengukuhan pengurus Permas yang dihadiri langsung oelh Wakil Bupati kabupaten kepulauan Selayar Bapak H. Saiful Arif bersema Istri serta beberapa tim ahli dari makassar, kegiatan pelantikan dirangkaikan denga dialog bersama antara wakil bupati selayar bersama tokoh-tokoh masyarakat selayar yang ada di kalimantan timur. pembahasan pada dialog tersebut mengarah pada kondisi masyarakat selayar yang ada di Kaltim dan merumuskan beberapa agenda untuk selayar kedepannya.

pelantikan pengurus DPD Permas juga dihadiri utusan dari Pemkot Samarinda, Ketua Kerukunan keluarga sulawesi selatan serta beberapa ketua-ketua persatuan masyarakat dari daerah lain di kaltim. prosesi pelantikan terbilang meriah dan dihadiri juga oleh seluruh masyarakat selayar yang ada di kaltim mulai dari Bontang, Balikpapan, Sangatta, Penajam, Paser dll.
   
Diketahui, Kabupaten  Kepulauan Selayar  adalah sebuah kabupaten di Provinsi  Sulawesi Selatan. Ibukota kabupaten ini terletak di Kota Benteng. Daerah tersebut mempunyai beberapa kecamatan yang dipisahkan oleh lautan (ani/awl)

Jumat, 18 Januari 2013

selayang pandang kabupaten kepulauan selayar


SEJARAH

Sejarah Selayar - Kabupaten Kepulauan Selayar adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten Kepulauan Selayar adalah Kota Benteng. Kabupaten ini memiliki luas sebesar 10.503,69 km² (wilayah daratan dan lautan) dan berpenduduk sebanyak ±134.000 jiwa. Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri dari 2 sub area wilayah pemerintahan yaitu wilayah daratan yang meliputi kecamatan Benteng, Bontoharu, Bontomanai, Buki, Bontomatene, dan Bontosikuyu serta wilayah kepulauan yang meliputi kecamatan Pasimasunggu, Pasimasunggu Timur, Takabonerate, Pasimarannu, dan Pasilambena.

Pada masa lalu, Kabupaten Kepulauan Selayar pernah menjadi rute dagang menuju pusat rempah-rempah di Maluku. Di Pulau Selayar, para pedagang singgah untuk mengisi perbekalan sambil menunggu musim yang baik untuk berlayar. Dari aktivitas pelayaran ini pula muncul nama Selayar. Nama Selayar berasal dari kata cedaya (Bahasa Sanskerta) yang berarti satu layar, karena konon banyak perahu satu layar yang singgah di pulau ini. Kata cedaya telah diabadikan namanya dalam Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada abad 14. Ditulis bahwa pada pertengahan abad 14, ketika Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanegara, Selayar digolongkan dalam Nusantara, yaitu pulau-pulau lain di luar Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Ini berarti bahwa armada Gajah Mada atau Laksamana Nala pernah singgah di pulau ini.

Selain nama Selayar, pulau ini dinamakan pula dengan nama Tana Doang yang berarti tanah tempat berdoa. Di masa lalu, Pulau Selayar menjadi tempat berdoa bagi para pelaut yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke barat maupun ke timur untuk keselamatan pelayaran mereka. Dalam kitab hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa (abad 17), Selayar disebut sebagai salah satu daerah tujuan niaga karena letaknya yang strategis sebagai tempat transit baik untuk pelayaran menuju ke timur dan ke barat. Disebutkan dalam naskah itu bahwa bagi orang yang berlayar dari Makassar ke Selayar, Malaka, dan Johor, sewanya 6 rial dari tiap seratus orang.
Belanda mulai memerintah Selayar pada tahun 1739. Selayar ditetapkan sebagai sebuah keresidenan dimana residen pertamanya adalah W. Coutsier (menjabat dari 1739-1743). Berturut-turut kemudian Selayar diperintah oleh orang Belanda sebanyak 87 residen atau yang setara dengan residen seperti Asisten Resident, Gesagherbber, WD Resident, atau Controleur. Barulah Kepala pemerintahan ke 88 dijabat oleh orang Selayar, yakni Moehammad Oepoe Patta Boendoe. Saat itu telah masuk penjajahan Jepang sehingga jabatan residen telah berganti menjadi Guntjo Sodai, pada tahun 1942. Di zaman Kolonial Belanda, jabatan pemerintahan di bawah keresidenan adalah Reganschappen. Reganschappen saat itu adalah wilayah setingkat kecamatan yang dikepalai oleh pribumi bergelar "Opu". Dan kalau memang demikian, maka setidak-tidaknya ada sepuluh Reganschappen di Selayar kala itu, antara lain: Reganschappen Gantarang, Reganschappen Tanete, Reganschappen Buki, Reganschappen Laiyolo, Reganschappen Barang-Barang dan Reganschappen Bontobangun. Di bawah Regaschappen ada kepala pemerintahan dengan gelar Opu Lolo, Balegau dan Gallarang. Pada tanggal 29 November1945 (19 Hari setelah Insiden Hotel Yamato di Surabaya) pukul 06.45 sekumpulan pemuda dari beberapa kelompok dengan jumlah sekitar 200 orang yang dipimpin oleh seorang pemuda bekas Heiho bernama Rauf Rahman memasuki kantor polisi kolonial (sekarang kantor PD. Berdikari). Para pemuda ini mengambil alih kekuasaan dari tangan Belanda yang di kemudian hari tanggal ini dijadikan tanggal Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar. Tahun Hari Jadi diambil dari tahun masuknya Agama Islam di Kabupaten Kepulauan Selayar yang dibawa oleh Datuk Ribandang, yang ditandai dengan masuk Islamnya Raja Gantarang, Pangali Patta Radja, yang kemudian bernama Sultan Alauddin, pemberian Datuk Ribandang. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1605, sehingga ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 29 November 1605.

Kabupaten Selayar yang merupakan salah satu Kabupaten dalam wilayah Provinsi Slawesi Selatan, terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerahdaerah Tingkat II di Sulawesi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1822). Yang kemudian berubah nama menjadi Kabupaten Kepulauan Selayar berdasarkan PP. No. 59 Tahun 2008.

(Dikutip dari Wikipedia)
NAMA-NAMA BUPATI KEPULAUAN SELAYAR
(SEJAK TAHUN 1965 HINGGA SEKARANG)
Names of The Regent of Selayar
(Since Year 1965 Until Now)

NO
NAMA BUPATI
Name of the Regent Head
PERIODE
Period
01
PATTA TJORA
1965
02
A. H. DG. MARIMBA
1965 – 1968
03
ABD. RAUF RACHMAN
1969 – 1971
04
ANDI PALIOI
1971 – 1974
05
ANAS ACHMAD
1975 – 1983
06
ISMAIL
1984 – 1989
07
ZAENAL ARIFIN KAMMI
1989 – 1994
08
H. M. AKIB PATTA
1994 - 1999
09
H. M. AKIB PATTA
1999 - 2004
10
H. A. SYAMSUL ALAM MALLARANGENG
2004 – 2005
11
H. SYAHRIR WAHAB
2005 – SEKARANG